Pages

Rabu, 30 November 2011

Hmmbbttt....Si Dia Marah Nih...Gimana???


 


عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رجلا قال للنبي صلى الله عليه وسلم : أوصني قال : " لا تغضب " فردد مِرارا , قال : لا تغضب

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Berilah wasiat kepadaku”. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Janganlah engkau mudah marah”. Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau : “Janganlah engkau mudah marah”.
[Bukhari no. 6116] Dalam Arba'in Nawawi hadits no. 16

Syarah Hadits :

Pengarang kitab Al Ifshah berkata : “Boleh jadi Nabi mengetahui laki-laki tersebut sering marah, sehingga nasihat ini ditujukan khusus kepadanya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memuji orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya ketika marah”. Sabda beliau : “Bukanlah dikatakan orang yang kuat karena dapat membanting lawannya, tetapi orang yang kuat ialah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya di waktu marah”.

Allah juga memuji orang yang dapat mengendalikan nafsunya ketika marah dan suka memberi maaf kepada orang lain. Diriwayatkan dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda : “Barang siapa menahan marahnya padahal ia sanggup untuk melampiaskannya, maka kelak Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan segala makhluk, sehingga ia diberi hak memilih bidadari yang disukainya”

Tersebut pada Hadits lain : “Marah itu dari setan”.

Oleh karena itu, orang yang marah menyimpang dari keadaan normal, berkata yang bathil, berbuat yang tercela, menginginkan kedengkian, perseteruan dan perbuatan-perbuatan tercela. Semua itu adalah akibat dari rasa marah. Semoga Allah melindungi kita dari rasa marah. Tersebut pada Hadits Sulaiman bin Shard : “Sesungguhnya mengucapkan ‘a’udzuubillaahi minasy syaithanirrajiim’ dapat menghilangkan rasa marah”.

Karena sesungguhnya setanlah yang mendorong marah. Setiap orang yang menginginkan hal-hal yang terpuji, setan selalu membelokkannya dan menjauhkannya dari keridhaan Allah, maka mengucapkan “a’udzuubillaahi minasy syaithanirrajiim” merupakan senjata yang paling kuat untuk menolak tipu daya setan ini.

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :
1.     Anjuran bagi setiap muslim untuk memberikan nasihat dan mengenal perbuatan-perbuatan kebajikan, menambah wawasan ilmu yang bermanfaat serta memberikan nasihat yang baik.
2.     Larangan marah.
3.     Dianjurkan untuk mengulangi pembicaraan hingga pendengar menyadari pentingnya dan kedudukannya.

Bila Pasangan Anda Marah.
Rumah tangga adalah perpaduan dua makhluk Allah yang berbeda, menyatu dalam ikatan pernikahan karena kesesuaian dan kesepahaman, walaupun di antara suami istri terdapat kesamaan-kesamaan yang membuat mereka bersatu akan tetapi sunnah Allah berkata bahwa tidak ada manusia yang sama, tidak terkecuali suami dengan istri, ketidaksamaan ini
bisa memicu kesalahpahaman yang membuat pasangan kesal dan marah. Dalam kondisi pasangan kesal dan marah kepada Anda, Anda perlu melakukan sesuatu demi kebaikan dan keharmonisan rumah Anda, karena jika tidak maka rumah dengan kemarahan penghuninya akan terasa sumpek.

1. Memaklumi
Pasangan Anda bukan malaikat, dia adalah manusia, dia tidak mungkin lepas dari sisi-sisi kemanusiaan, suka dan benci, rela dan marah pasti terjadi padanya, wajar kalau pasangan Anda marah, tentu ada penyebabnya, maklumi dan terimalah, tidak perlu berpikir negatif atau terlalu memikirkannya sehingga menambah beban berat Anda, tetapi jangan pula dianggap angin lalu karena bisa jadi angin lalu tersebut berubah besar sehingga menjadi angin ribut. Jadi sikapi dengan wajar dan proporsional.

2. Menenangkan
Marah adalah api, dan kita mengetahui bahwa api akan menyambar apa yang mungkin terbakar. Api tidak akan menyambar air. Kemarahan pasangan akan meninggi jika Anda memposisikan diri sebagai sesuatu yang mungkin disambar api, kalau Anda memposisikan diri ibarat air, maka itu akan meredakan kemarahan pasangan. Dari sini jika pasangan Anda marah maka bersikaplah tenang, tidak perlu terpancing emosi dan ikut-ikutan marah karena hal itu ibarat mengipasi bara api atau menyiramkan bensin ke dalam api. Di samping Anda mesti bersikap tenang, Anda juga sebaiknya diam, biarkan
pasangan Anda ngedumel dan nerocos menumpahkan kekesalannya, tampung saja ibarat Anda adalah ember baginya, tidak perlu menimpali atau membantah karena orang marah akan bertambahn marah jika dia dibantah atau disangkal.

3. Melakukan
Melakukan sesuatu yang positif untuk meredakan kemarahan pasangan. Memeluknya dan mendekapnya sambil membisikkan kalimat-kalimat manis dan kata-kata indah adalah langkah mujarab, lebih-lebih jika Anda melakukan dengan tulus dan dengan penuh perasaan, dijamin pasangan Anda akan normal kembali. Atau Anda juga bisa membuatkan sesuatu makanan atau minuman cepat saji kesukaannya. Buatkan segelas susu atau teh manis untuk meredakan kemarahannya.

4. Menghindari
Kemarahan pasangan biasanya terjadi karena suatu sebab, ada sesuatu pada diri Anda yang menurutnya keliru dan tidak sejalan dengan keinginannya. Cari tahu apa itu dan setelah itu hindari agar kemarahan pasangan tidak terulang. Bukankah pengobatan terbaik adalah pencegahan? Bukankah untuk menghilangkan asap Anda mesti memadamkan api? Ini tentu menuntut Anda menyediakan kondisi yang menyenangkan bagi pasangan. Dengan kondisi yang demikian maka pasangan akan merasa nyaman, bukankah kemarahan seseorang dipicu oleh ketidaknyamanan?

5. Membicarakan
Saya mengetahui walaupun pasangan Anda marah kepada Anda tidak secara otomatis dia berada di pihak yang benar dan Andalah di pihak yang salah, belum tentu demikian karena pada umumnya kemarahan rumah tangga terjadi hanya karena kesalahpamahan dalam menyikapi dan memandang. Oleh karena itu Anda merasa perlu berbicara kepada
pasangan untuk mendudukkan persoalan di tempat yang proporsoinal. Saya setuju dengan Anda, membicarakan dengan pasangan Anda akan tetapi ada baiknya bila Anda bersabar sejenak menunggu amarahnya meredah, pada saat itulah Anda boleh berbicara. Jelaskan masalahnya dengan bahasa yang baik, halus, tidak menggurui, tidak menyudutkan dan tidak mengungkit kemarahan yang baru mereda, insya Allah dengan cara ini pasangan bisa menyadari dan menerima pikiran-pikiran Anda. Jika perlu sampaikan keutamaan menahan amarah dari sisi agama mudah-mudahan dia mengambil
pelajaran.

6. Muhasabah
Muhasabah adalah melihat diri, siapa tahu pasangan marah kepada Anda karena memang Andalah yang salah, supaya tidak terulang maka perbaiki, kalaupun bukan Anda yang salah muhasabah tetaplah berguna karena ia berarti belajar dari peristiwa untuk bekal menghadapi peristiwa yang mungkin terjadi.

Diantara bentuk-bentuk kemarahan yang indah telah dicontohkan oleh 'Ali Radhiiyallahu 'anhu, yaitu beliau keluar rumah dan tiduran dimasjid ... Tidak Malah ngebut dijalanan (...Ups...!!), Tidak lari ke Cafe, Discotic apalagi ke Bar meminum minuman haram ...Dan melakukan hal-hal buruk lainnya ... Wal'iyadzubillah ...

Tips Cara menahan amarah
1. Tarik nafas dalam-dalam lalu hempaskan.
2. Sibukkan dengan membaca Ta'awwudz berulang-ulang
3. Ambil Wudhu' karena air bisa mendinginkan
4. Berdo'a memohon pertolongan Allah

Hakikat Cinta Aku dan Kamu

Manusia wajib mencintai Allah, Rasulnya dan mencintai segala hal yang disenangi oleh Allah dan Rasul-nya, serta mencintai para wali-nya dan ahlu tha'at.

Bila cinta itu benar , pasti akan nampak pengaruhnya pada anggota tubuh. Anda akan melihat seseorang yang benar-benar mentaati Allah dan mengikuti Rasul-Nya shalallau 'alaihi wasallam maka ia akan beribadah dengan betul kepada Allah, merasa nikmat dan bersegera mengerjakan segala sesuatu yang disenangi Allah, baik berupa perkataan ataupun perbuatan. Dan anda akan melihatnya bersikap hatihati agar tidak bernuat maksiat dan segera menjauhi apabila bertemu maksiat dan segera menjauhinya (bila bertemu kemaksiatan). Bahkan ia akan membenci dan marah terhadap orang yang berbuat maksiat.

Dan tanda kesempurnaan tauhid seseorang ada dalam perasaan Cinta karena Allah dan benci karena Allah melihat karena Allah, menahan (tidak memberi) karena Allah dan Allah sebagai satu-satunya Illah yang berhak disembah.

Siapa yang mengaku cinta kepada Allah dan tidak merasa seirama dengan-Nya itu adalah tidak benar. Allah mensyaratkan alamat(tanda) cinta kepada Allah adalah mengikuti (ittiba) kepada nabi Muhammad shalallau 'alaihi wasallam, sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya: Katakanlah (Muhammad) jika kamu sekalian mencintaai Allah, maka ikutilah aku niscaya Allah akan cinta kepadamu dan akan mengampuni dosa-dosa kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.(Ali Imran: 31).

Tanda cinta seorang hamba kepada Allah adalah:
1). Al-Qashdu (Tujuan), yaitu menjadikan tujuan hidup hanya untuk Allah.

2). At-Ta'dzim (Mengagungkan) Allah. Sebagaimana dalam firman-Nya Dan orangorang yang beriman lebih besar dintanya kepada Allah. (Al-Baqarah: 165).

3). Al-Khauf dan Raja' (Takut dan Berharap) hanya kepada Allah. Abu Laits As- Samargandi mengatakan khauf kepada Allah akan nampak pada tujuh anggota badan seseorang ;
a. Lisan, ia akan berpuasa dari ucapan dusta, ghibah, dan ucapan yang sia-sia, ia akan mengunakan untuk berzikir, membaca Al-Qur'an dan belajar ilmu
b. Perutnya, ia tidak akan berani untuk mengisinya dengan barang-barang haram atau cara-cara haram
c. Matanya tidak akan memandang yang haram, tidak mau melihatnya karena ingin memiliki, melainkan untuk mengambil pelajaran dari padanya (begitu pula dengan telinganya)
d. Tanganya, ia tidak akan mengulurkan tangan untuk menjamah apa-apa yang bukan haknya.
e.Kedua kakinya, tidak akan berani melangkah untuk bermaksiat kepada penciptanya.
f. Hatinya, ia akan mengusir rasa benci , hasud dan dendam dari padanya, yang dia rawat hanyalah rasa kasih sayang, dan cinta kepada kebenaran.
g. Ketaatan, ia akan selalu berjuang untuk menjadikan ikhlas karena Allah

4). At-Taqwa
Yaitu takut kepada kemungkaran Allah ta'ala dan siksaan-Nya dengan meninggalkan syirik dan berbuat maksiat, mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata dan mentaati seluruh apa yang telah Allah syariatkan.

Apabila di dalam hati ada mahabbah (cinta) kepada Allah tentu akan membawa seorang mukmin menerima beban dari kecintaan ini dan konsekuensi ibadah, diantaranya jihad melawan musuh Allah, membenci dan meninggalkan musuh Allah
dan bersabar dalam derita di jalan Allah.

Orang-orang yang melaksanakan perintah Allah, mereka inilah yang dicintai dan dibela Allah serta yang menjadi walinya. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang dijalan-Nya dengan berbaris seakan-akan merupakan bangunan yang tersusun. (As-Shaf: 4)

Diantara lawazim (tuntutan) cinta kepada Allah itu ittiba' (mengikuti) Rasulullah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: Ittiba' sunnah Rasulullah dan ittiba' syari'atnya dalam bathin dan dzahir merupakan kewajiban yang kedudukannya
dibawah cinta kepada Allah. Sedangkan jihad dijalan-Nya, wala' (loyalitas) kepada para wali-Nya dan bara' (dibaca barok;artinya memusuhi atau membenci) terhadap musuh-musuh-Nya merupakan hakekat cinta kepada-Nya.

Adapun kewajiban umat terhadap Nabi Muhammad shalallau 'alaihi wasallam adalah:

1). Beriman kepada Nabi shalallau 'alaihi wasallam.
Allah memerintahkan beriman kepada Nabi shalallau 'alaihi wasallam sebagaimana  memerintahkan beriman kepada-Nya, malaikat-Nya, dan kitab-kitab-Nya, hari akhir, taqdir-Nya dan Allah menyertakan pula dosa dan azab bagi siapa-siapa yang mengingkari. Allah ta'ala berfirman yang artiya: Wahai oraang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kitab-kitab –Nya yang diturunkan kepada rasul-Nya dan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan siapa yang ingkar(kafir) kepada Allah, Malaikat-malaikat dan Rasul-Nya dan hari Akhir maka sesat dalam dalam kesesatan yang jauh. (An-Nisa:136).
Anjuran untuk beriman kepada Rasul shalallau 'alaihi wasallam terdapat pula pada surat Al-Hadid ayat 28, At-Thaghabun ayat 8 , Al-A'raf ayat 158 dan dalam ayat-ayat yang senada lainnya.

2). Mentaati Rasulullah shalallau 'alaihi wasallam dan tidak bermaksiat kepadanya. Ketaatan kepada beliau merupakan tanda iman kepada-Nya, dengan taat kepada beliau berarti taat terhadap segala apa yang telah di sampaikan Allah ta'ala. Perintah Allah untuk taat kepada Rasul dalam Al-Qur'an banyak sekali didapati diantaranya adalah firman Allah ta'ala yang artinya : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Al-Qur'an dan taatilah Rasul-(Nya) dan ulil amri diantara kamu.(An-Nisa'':59)

Dan firman-Nya yang artinya:
Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada rasul(Nya) dan berhatihatilah jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul kami, hanyalah menyampaikan (amanat) dengan terang. (Al-Maidah:92).
Dan dalam surat lain seperti pada surat An-Nur ayat 54, Al-Hasyr ayat 7, An-Nur ayat 56, Al-Ahzab ayat 71.

Dan dalam hadist shahih dari Abu Hurairah Radiyallahu''anhu, Rasulullah shalallau 'alaihi wasallam bersabda yang artinya: Siapa yang mentaati saya berarti dia mentaati Allah dan siapa yang durhaka kepada kepada saya berarti dia durhaka
kepada Allah.(Hadist Bukhari No.7137).

Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radiyallahu' anhu, bersabda Rasulullah shalallau 'alaihi wasallam yang artinya : Semua manusia akan masuk surga kecuali siapa yang enggan itu, Rasulullah menjawab,siapa yang taat kepadaku masuk surga dan siapa yang durhaka kepadaku itulah yang enggan. (Shahih Bukhari no.7280).

Ittiba'(mengikuti) dan mencontoh sunah Nabi shalallau 'alaihi wasallam , maka Allah menjanjikan hidayah dan maghfirah kepada orang yang ittiba dan mencontoh sunnahnya, hal ini merupakan tanda cinta terhadap Allah ta'ala yang artinya Dan ikutlah dia agar kamu sekalian mendapat petunjuk.(Al-A'raf 58).

Mahabbatun Nabi shalallau 'alaihi wasallam (mencintainya) yakni harus zhahir maupun bathin. Bahkan harus mendahulukan nabi yang lainnya dalam segala hal. Dalam hadist shahih dari Anas radhiyallahu'anhu. dia berkata, bersabda Rasulullah yang artinya:Tidaklah beriman seseorang dari kamu sehingga saya dicintai daripada anaknya, orangtuanya dan manusia kesemuanya.(Bukhari no.15 dan Muslim II no.15).

3). Menghormati Nabi shalallau 'alaihi wasallam mengagungkannya dan mengutamakannya. Allah melarang mendahulukan pendapat dan pandangan dihadapan Rasulullah yang bertentangan dengan apa yang dibawa olehnya. Juga melarang mengangkat atau meninggikan suara di hadapannya tanpa alasan. Allah berfirman yang artinya: Jangganlah kamu jadikan panggilan Rasulullah sebagai mana panggilan kamu kepada sebagian kamu yang lain.(An-Nur 63).

4). Kewajiban bertahkim kepada Nabi shalallau ''alaihi wasallam dan rela terhadap hukumnya serta tidak melawan.
Sebagaimana firman Allah : Maka jika kamu berselisih pada satu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasulullah.(An-Nisa:59).

5). Tidak berlebih-lebihan dan menggurangi hak Rasul shalallau ''alaihi wasallam Allah berfirman yang artinya :Katakanlah, Maha suci tuhanku, bukanlah saya hanyalah seorang manusia yang diutus. (Al-Isra'' 93).

Demikianlah gambaran cinta yang hakiki, yaitu cinta yang akan membuahkan hasil kenikmatan yang sempurna, kenikmatan bertemu dengan kekasih sejati di alam akhirat, alam kehidupan yang penuh arti. Semoga diri kita termasuk orang yang memiliki cinta sejati.

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥Wanita Penghuni Syurga, Mau?♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Menjadi penghuni surga ?
Siapa yang tidak menginginkan cita-cita yang agung ini. Itulah puncak cita-cita dari seorang muslim. Merasakan kenikmatan surga yang hakiki dan abadi. Begitu pula seorang muslimah tentu bercita-cita Menjadi Wanita Penghuni Surga.


Menjadi wanita surga berarti menjadi penduduk taman indah yang keelokannya tak terperikan oleh tulisan dan kata-kata. Di dalamnya terdapat berbagai bejana dari emas dan perak. Istana yang megah dengan balutan beragam permata semakin membuat terpana. Berbagai macam kenikmatan yang belum pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan terbetik di hati. Dengan begitu wanita surga begitu mulia dan berharga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkannya


“ …seandainya salah seorang wanita penduduk surga menengok penduduk bumi niscaya dia akan menyinari antara keduanya (penduduk surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau wangi-wangian. Setengah dari kerudung wanita surga yang ada di kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan isinya.” [Shahih al-Bukhari Kitab al-Riqaq no. 6568]  


Ciri Wanita Surga
Mungkinkah menjadi wanita surga? Bukankah di surga sudah ada bidadari yang cantik bermata jeli? Kaum muslimah bisa tetap menjadi pendamping suaminya yang beriman kelak di surga dan akan memperoleh kenikmatan yang sama dengan yang diperoleh penduduk surga lainnya. Tentunya sesuai dengan rahmat Allah yang diterimanya kemudian sesuai amalnya selama di dunia. Jadi pasutri di dunia pun nanti bisa menjadi pasangan yang kekal di surga yang abadi. Lantas bagaimana menjadi wanita surga? Pada hakikatnya wanita surga adalah wanita yang taat kepada Allah dan rasul-Nya. Seluruh sifatnya merupakan cerminan ketaatannya.


DI ANTARA SIFATNYA ADALAH:


1. Bertakwa.
2. Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasulNya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.
3. Bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan ibadah haji bagi yang mampu.
4. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, jika tidak, dia menyadari bahwa Allah melihat dirinya.
5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah, tawakal kepada-Nya, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap adzab-Nya, mengharap rahmat-Nya, bertaubat kepada-Nya, bersabar atas segala takdir-Nya, dan mensyukuri segala kenikmatan yang ada.
6. Gemar membaca al-Quran dan berusaha memahaminya, berdzikir mengingat Allah ketika sendiri atau bersama banyak orang dan berdoa hanya kepada Allah semata.
7. Menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat sekitar.
8. Berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak yang dia miliki.
9. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang menzhaliminya.
10. Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia.
11. Adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk.
12. Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah).
13. Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.
14. Berbakti kepada kedua orang tua.
15. Menyambung silaturahmi dengan kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh.


Demikian sebagian ciri wanita surga yang disebutkan dalam kitab Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah. Ini tidak dimaksudkan sebagai pembatasan, seluruhnya masuk dalam kerangka taat kepada Allah dan rasul-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya : “ …dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar.” (An Nisa’: 13)


Anda tertarik menjadi kandidatnya? Jalan takwa membentang di depan Anda, kenapa memilih jalan menyimpang? Semoga anda termasuk muslimah yang bercita-cita demikian.  
Wallahu a’lam bishshawwab.


∞∞ Semoga Bermanfaat ∞∞


Sumber : Majalah Fatawa Vol.III/No.05 | April 2007 / Rabiul Awwal 1428 halaman 60-61

Si Pencuri Hatiku

Cinta itu memang indah....


Dan keindahannya itu saat didasari dengan sebuah tali pernikahan. Tanpa itu yang dirasa hanyalah sebuah hal yang jelas jauh dari nilai kebaikan ...


Penyakit ini sungguh suatu penyakit yang nikmat dirasa, dia begitu menggiurkan, menyenangkan, sampai - sampai segala sesuatu itu selalu teringat tentang dia yang dicintainya ...


Mau makan teringat padanya, mau minum teringat padanya, mau apapun yang ada didalam angan, didalam fikiran dan didalam setiap gerak geriknya adalah selalu teringat kepadanya ...


Nikmat memang, tapi tragis ...


Saat belum terbungkus dengan "kehalalan" maka cinta ini merupakan sebuah musibah besar ...
Cinta mampu membuat seorang anak manusia tertawa dalam sekejap dan menangis dalam sesaat... nah menyiksa bukan yang namanya CINTA itu?


Selain itu ada lagi jerat-jerat sang idola ..


Beberapa waktu belakangan ini kita kerap disuguhi berita tentang tewasnya beberapa remaja kita, ketika sedang berusaha menyaksikan dan melihat secara dekat dan langsung penampilan artis idola mereka. Sebut saja misalnya tragedi yang terjadi di Lampung beberapa waktu silam, ketika sebuah grup musik yang sedang melejit ' Sheila On 7' sedang manggung, terjadilah tragedi yang menewaskan beberapa remaja putri penggemar mereka. Dan yang masih hangat adalah tewasnya empat orang remaja putri !- akibat berdesak-desakan ingin bertemu dengan salah satu grup musik manca negara yang kebetulan datang ke Indonesia : a1 (a-one) namanya.




Bagi sebagian pengamat sosial, kejadian-kejadian ini menjadi sebuah fenomena yang patut diteliti lebih jauh sebagai fenomena baru di kalangan anak muda kita. Namun sebagai seorang muslim, kita tentu harus melihatnya dari kacamata Islam.


Menurut penulis, semua tragedi ini tidak lebih merupakan akibat dari salah memilih dan memperlakukan idola. Dalam Islam kita diajarkan sebuah konsep bersikap atau kalau Anda mau, Anda dapat mengatakan : konsep beridola . Para ulama menyebutnya dengan konsep Al-Wala wa Al-Bara. Al-Wala artinya kita wajib memberikan loyalitas kepada Allah, RasulNya dan orang-orang beriman tanpa terikat zaman dan tempat. Sedangkan Al-Bara adalah kewajiban untuk berlepas diri dari segala tindak kekufuran dan kedurhakaan serta pelaku-pelakunya, tentu yang pertama kali masuk dalam kategori ini adalah syetan dan pengikut-pengikutnya serta orang- orang kafir-. Berdasarkan konsep ini maka ada beberapa hal yang dapat disimpulkan :


Pertama, manusia-manusia yang patut diidolakan oleh seorang muslim adalah Rasulullah Shollallahu A'laihi Wasallam dan orang-orang shaleh yang mengikuti beliau para shahabat dan generasi pendahulu yang shaleh (As-Salaf Ash-Shaleh)-,


Kedua, cara kita mengidolakan mereka tentu saja harus sesuai dengan ketentuan Allah, tidak kurang dan tidak lebih (ghuluw). Itulah sebabnya, Rasulullah Shollallahu A'laihi Wasallam melarang kita memperlakukan beliau sebagaimana orang nashrani memperlakukan Isa alahissalam- yang memperlakukan beliau sebagai tuhan.


Ketiga, jenis manusia yang tidak pantas diidolakan adalah manusia-manusia yang kafir dan durhaka kepada Allah Azza wa Jalla. Maka orang-orang yang profesinya hanya membuat orang lain (baca :penggemarnya) lalai dan lupa kepada Allah - seperti para artis film dan penyanyi- tentulah termasuk dalam kategori ini.


Inilah renungan kita kali ini ; sebuah renungan yang patut direnungkan oleh setiap orang tua, utamanya yang seringkali salah memilihkan idola bagi anaknya-, setiap pemuda-pemudi -utamanya yang masih belum memiliki ukuran yang jelas dalam mencari idola- dan bagi siapa saja yang sampai saat ini belum mengidolakan Rasulullah Shollallahu A'laihi Wasallam dan para pengikut beliau hingga akhir zaman.


"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak mengingat Allah" (Al-Ahzab : 21)

Bersabarlah dan Jangan Sedih Wahai Saudaraku

Senang, bahagia, suka cita, sedih, kecewa dan duka cita adalah sesuatu yang biasa dialami manusia. Ketika mendapatkan sesuatu yang menggembirakan dari kesenangankesenangan duniawi maka dia akan senang dan gembira. Sebaliknya ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan maka dia merasa sedih dan kecewa bahkan kadangkadang
sampai putus asa.

Akan tetapi sebenarnya bagi seorang mukmin, semua perkaranya adalah baik. Hal ini diterangkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Sungguh menakjubkan perkaranya orang mukmin. Sesungguhnya semua perkaranya
adalah baik dan tidaklah hal ini dimiliki oleh seorangpun kecuali oleh orang mukmin. Jika dia diberi kenikmatan/kesenangan, dia bersyukur maka jadilah ini sebagai kebaikan baginya. Sebaliknya jika dia ditimpa musibah (sesuatu yang tidak menyenangkan), dia bersabar, maka ini juga menjadi kebaikan baginya." (HR. Muslim no.2999 dari Shuhaib radhiyallahu 'anhu)

Kriteria Orang yang Paling Mulia
Sesungguhnya kesenangan duniawi seperti harta dan status sosial bukanlah ukuran bagi kemuliaan seseorang. Karena Allah Ta'ala memberikan dunia kepada orang yang dicintai  dan orang yang tidak dicintai-Nya. Akan tetapi Allah akan memberikan agama ini hanya kepada orang yang dicintai-Nya. Sehingga ukuran/patokan akan kemuliaan seseorang
adalah derajat ketakwaannya. Semakin bertakwa maka dia semakin mulia di sisi Allah.

Allah berfirman:
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorangperempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Al-Hujuraat:13)

Jangan Sedih ketika Tidak Dapat Dunia
Wahai saudaraku, ingatlah bahwa seluruh manusia telah Allah tentukan rizkinya - termasuk juga jodohnya-, ajalnya, amalannya, bahagia atau pun sengsaranya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (air mani) kemudian berbentuk segumpal darah dalam waktu yang sama lalu menjadi segumpal daging dalam waktu yang sama pula.

Kemudian diutus seorang malaikat kepadanya lalu ditiupkan ruh padanya dan diperintahkan dengan empat kalimat/perkara: ditentukan rizkinya, ajalnya, amalannya, sengsara atau bahagianya." (HR. Al-Bukhariy no.3208 dan Muslim no.2643 dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu)

Tidaklah sesuatu menimpa pada kita kecuali telah Allah taqdirkan.
Allah Ta'ala berfirman: "Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian sendiri
melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kalian jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian, dan supaya kalian jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian.

Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (Al-Hadiid:22-24)

Kalau kita merasa betapa sulitnya mencari penghidupan dan dalam menjalani hidup ini, maka ingatlah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Tiada suatu amalan pun yang mendekatkan ke surga kecuali aku telah perintahkan
kalian dengannya dan tiada suatu amalan pun yang mendekatkan ke neraka kecuali aku telah larang kalian darinya. Sungguh salah seorang di antara kalian tidak akan lambat rizkinya. Sesungguhnya Jibril telah menyampaikan pada hatiku bahwa salah seorang dari kalian tidak akan keluar dari dunia (meninggal dunia) sampai disempurnakan rizkinya.

Maka bertakwalah kepada Allah wahai manusia dan perbaguslah dalam mencari rizki. Maka apabila salah seorang di antara kalian merasa/menganggap bahwa rizkinya lambat maka janganlah mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah karena sesungguhnya keutamaan/karunia Allah tidak akan didapat dengan maksiat." (Shahih, HR. Al-Hakim no.2136 dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu)

Maka berusahalah beramal/beribadah dengan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan jangan membuat perkara baru dalam agama (baca:bid'ah).

Dan berusahalah mencari rizki dengan cara yang halal serta hindari sejauh-jauhnya halhal yang diharamkan.

Hendaklah Orang yang Mampu Membantu
Hendaklah bagi orang yang mempunyai kelebihan harta ataupun yang punya kedudukan agar membantu saudaranya yang kurang mampu dan yang mengalami kesulitan. Allah berfirman: "Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." (Al-Maa`idah:2)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah akan hilangkan darinya satu kesusahan dari kesusahankesusahan hari kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan orang yang mengalami kesulitan maka Allah akan mudahkan baginya di dunia dan di akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat.
Dan Allah akan senantiasa menolong hamba selama hamba tersebut mau menolong saudaranya." (HR. Muslim no.2699 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

Berdo'a ketika Sedih
Jika kita merasa sedih karena sesuatu menimpa kita seperti kehilangan harta, sulit mencari pekerjaan, kematian salah seorang keluarga kita, tidak mendapatkan sesuatu yang kita idam-idamkan, jodoh tak kunjung datang ataupun yang lainnya, maka ucapkanlah do'a berikut yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Tidaklah seseorang ditimpa suatu kegundahan maupun kesedihan lalu dia berdo'a: "Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, putra hamba laki-laki-Mu, putra hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di Tangan-Mu, telah berlalu padaku hukum-Mu, adil
ketentuan-Mu untukku. Saya meminta kepada-Mu dengan seluruh Nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamakannya untuk Diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur`an sebagai musim semi (penyejuk) hatiku dan cahaya dadaku, pengusir kesedihanku serta penghilang kegundahanku." kecuali akan Allah hilangkan kegundahan dan kesedihannya dan akan diganti dengan diberikan jalan keluar dan kegembiraan." Tiba-tiba ada yang bertanya: "Ya Rasulullah, tidakkah kami ajarkan do'a ini (kepada orang lain)? Maka Rasulullah menjawab: "Bahkan selayaknya bagi siapa saja yang mendengarnya agar mengajarkannya (kepada yang lain)." (HR. Ahmad no.3712 dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albaniy)

Juga do'a berikut ini: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari gundah gulana, sedih, lemah, malas, kikir, penakut, terlilit hutang dan dari tekanan/penindasan orang lain." (HR. Al- Bukhariy 7/158 dari Anas radhiyallahu 'anhu)

Ilmu adalah Pengganti Segala Kelezatan
Di antara hal yang bisa menghibur seseorang ketika mengalami kesepian atau ketika sedang dilanda kesedihan adalah menuntut ilmu dan senantiasa bersama ilmu. Berkata Al-Imam Al-Mawardiy: "Ilmu adalah pengganti dari segala kelezatan dan mencukupi dari segala kesenangan…. Barangsiapa yang menyendiri dengan ilmu maka kesendiriannya itu tidak menjadikan dia sepi. Dan barangsiapa yang menghibur diri dengan kitab-kitab maka dia akan mendapat kesenangan…. Maka tidak ada teman ngobrol sebaik ilmu dan tidak ada sifat yang akan menolong pemiliknya seperti sifat alhilm
(sabar dan tidak terburu-buru)." (Adabud Dunya wad Diin hal.92, dari Aadaabu Thaalibil 'Ilmi hal.71)

Duhai kiranya kita dapat mengambil manfaat dari ilmu yang kita miliki sehingga kita tidak akan merasa kesepian walaupun kita sendirian di malam yang sunyi tetapi ilmu itulah yang setia menemani.

Contoh Orang-orang yang Sabar
Cobaan yang menimpa kita kadang-kadang menjadikan kita bersedih tetapi hendaklah kesedihan itu dihadapi dengan kesabaran dan menyerahkan semua permasalahan kepada Allah, supaya Dia menghilangkan kesedihan tersebut dan menggantikannya dengan kegembiraan.

Allah berfirman mengisahkan tentang Nabi Ya'qub: "Dan Ya`qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: "Aduhai duka citaku terhadap Yusuf", dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). Mereka berkata: "Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa." Ya`qub menjawab:  "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tiada mengetahuinya." (Yuusuf:84-86)

Allah juga berfirman mengisahkan tentang Maryam: "Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ketempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan." Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke
arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu." (Maryam:22-25)

Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita sebagai orang-orang yang sabar dan istiqamah dalam menjalankan syari'at-Nya, amin. Wallaahu A'lam.

(Dikutip dari Bulletin Al Wala' wa Bara', Edisi ke-4 Tahun ke-3 / 17 Desember 2004 M / 05 Dzul Qo'dah 1425 H . Judul asli Janganlah Bersedih Wahai Saudaraku. Diterbitkan Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah Bandung.

Beberapa Hal Tentang Ilmu

Oleh Ustadz Ahmas Faiz


Adalah tepat ketika Imam Mujadid abad ke-12 H, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam al-Ushul ats-Tsalatsah menyatakan bahwa kewajiban pertama di antara empat kewajiban yang harus dipelajari seorang muslim adalah ilmu.


Juga pada perkataan Imam al-Bukhori ketika mengetengahkan sebuah judul bab pada kitab Shahihnya Bab : Ilmu Sebelum Perkataan dan Perbuatan. Al Imam Al Bukhari mendasarkan perkataannya pada firman Allah : Maka Ilmuilah bahwasanya tiada ilah yang berhak disembah melainkan Allah, dan mohonlah ampun bagi dosamu (Muhammad:19).


Pada kenyataannya ilmu itu memang teramat penting dan menentukan, oleh karena itu ia mesti menjadi hal pertama untuk dimengerti.


Mengapa Ilmu? Apakah Ilmu dan Apakah Batasannya?


Para ulama salaf telah menempatkan perhatian mereka untuk memberikan penjelasan tentang batasan ilmu, mafhum, manhaj dan kepentingannya. Hal itu kerena mereka memahami betul bahwa sebab-sebab terjadinya penyimpangan orang-orang yang sesat pada asalnya karena kekeliruan tashawwur (pandangan/wawasan) mereka tentang batasan ilmu.


Namun perlu diketahui bahwa pemahaman atau orientasi seseorang tentang ilmu akan menjadi benar dan bermanfaat jika didasari oleh iman serta keyakinan yang benar pula.


Al Imam Ibnul Qayyim mengemukakan bahwa : Iman dan keyakinan akan melahirkan m2a'rifat (pemahaman) serta kehendak yang benar, sebaliknya, ma'rifat serta kehendak yang benar akan melahirkan serta mengkokohkan keimanan. Dari sini saja jelaslah bahwa penyimpangan kebanyakan manusia dari iman adalah disebabkan penyimpangan mereka dari ma'rifat serta kehendak yang benar.


Sementara itu iman tidak akan menjadi sempurna kecuali jika ma'rifat mengenainya diterima dari misykat nubuwwah (sumber kenabian / wahyu) dan disertai dengan kehendak yang bersih dari segenap unsur noda hawa nafsu dan keinginan untuk mencari perhatian makhluq.


Dengan begitu ilmunya benar-benar terpetik dari misykat wahyu, sedangkan kehendaknya benarbenar karena Allah dan keinginan negeri akhirat.


Itulah dia manusia yang paling benar ilmu serta amalnya, dia termasuk para imam yang mengambil petunjuk dengan perintah Allah dan termasuk khalifah Rasulullah di tengah-tengah umatnya. Perkatan Ibnul Qayyim di atas adalah senada dengan apa yang dikatakan oleh seorang sahabat nabi yang mulia, Ubadah bin Shamit: Kalau kamu suka, saya akan beritahukan kepada kamu bahwa ilmu yang paling pertama yang akan dihilangkan dari manusia adalah Khusyu'.


Maksudnya dari rasa khusyu' (tunduk dan patuh) inilah sebuah ilmu yang benar akan terbangun. Tentu yang dimaksud oleh Ubadah dengan Ilmu ini adalah ilmu yang langsung menyangkut keselamatan seseorang di dunia maupun di akhirat yaitu ilmu tentang Allah dan Dienul Islam, sebab perkataan beliau tersebut berkenaan dengan hadits Rasulullah :


Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta merta dari hamba-Nya, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan dicabutnya nyawa para ulama, hingga manakala Dia tidak menyisakan satu orang alimpun (dalam riwayat lain: Hingga manakala tidak tertinggal satu orang alimpun), manusia akan menjadikan pemimpin-pemimpin dari orang-orang yang bodoh, maka tatkala mereka akan ditanya (tentang masalah agama), lalu mereka akan berfatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan. (HR Bukhari dalam al Ilmu 1/234 dan Muslim dalam al-Ilmu 16/223).


Dengan demikian untuk persoalan ilmu memang ada dua kemungkinan, ilmu yang benar dan ilmu yang salah.


Ini sesuai dengan pernyataan al Hafidz Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat: Dan diantara manusia ada yang membantah tentang Allah tanpa Ilmu (al Hajj:8)tanpa ilmu disini yaitu tanpa ilmu yang benar.


Berdasarkan penjelasan di atas maka mestinya setiap hamba Allah mengkaji ulang kembali adakah ilmu yang diyakini itu sudah benar, atau bahkan ilmunya itu sekedar angan-angan kosong belaka? Akan tetapi ketika persoalannya sampai pada pertanyaan:Apakah definisi atau pengertian ilmu itu?


Maka seperti dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdillah al Khur'an, adalah sulit untuk membuat definisi tentang ilmu, sebab disamping istilah ilmu itu sendiri ketika didengar oleh sesorang, ia akan secara sepontan dapat mengerti maksud istilah tersebut, juga karena sebuah definisi tentu memerlukan bahasa-bahasa sinonim yang secara tepat mampu memberikan penjelasan hingga keseluruhan maknanya dapat tertangkap secara utuh.


Sedangkan ilmu ketika didefinisikan dengan bahasa panjang lebar, justru mungkin akan semakin mengkaburkan makna ilmu itu sendiri, atau orang semakin tidak paham mengenainya. Begitu pula ketika ilmu disebut sebagai ma'rifah atauidrak (daya tangkap) atau tashawwur (wawasan); padahal istilah-istilah itu masuk dalam pengertian ilmu.


Oleh karena itu, yang pennting disini bukanlah membahas tentang definisi ilmu tetapi tentang persyaratan-persyaratan ilmu, atau dengan kata lain kapankah suatu hal atau suatu perkataan bisa disebut ilmiah, atau bisa disebut haq dan benar?


Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah menyatakan: ilmu ialah memindahkan gambaran yang diketahui dari kenyataan alam luar kemudian ditetapkannya (dimasukkan hingga tetap) ke dalam diri, sedangkan amal adalah memindahkan (mewujudkan) gambaran ilmiah dari arah dalam diri, kemudian dituangkan dalam alam nyata.


Apabila yang ditetapkan di dalam diri ternyata sesuai dengan kenyataan (realita), berarti dia adalah ilmu yang benar. Namun seringkali orang menetapkan sesuatu gambaran di dalam dirinya apa yang tidak ada wujud hakikinya, sehingga ia mengira bahwa yang dimilikinya adalah ilmu, ia hanyalah perkiraan-perkiraan belaka, tanpa ada kenyatannya, dan itulah kenyataaan dari pada kebanyakan dari ilmu manusia...?


Jadi Ibnu Qoyyim (juga sebagian ulama' lain) memberi syarat : suatu ilmu bisa disebut ilmu, apabila sesuai dengan realita.


Demikian juga yang dikatakan oleh imam asy-Syatibi bahwa: Ilmu yang dikehendaki disini maksudnya ialah agar supaya terjadinya amal-amal perbuatan dalam wujud nyatanya sejalan dengan ilmu tersebut tanpa ada perselisihan, baik amal-amal itu merupakan perbuatan hati, lidah maupun anggota badan


Dengan demikian jika suatu perbuatan biasanya berlangsung sejalan dengan ilmunya tanpa ada perselisihan sedikitpun antara keduanya, berarti dalam kaitan ini ia merupakan ilmu sebenarnya, kalau tidak berarti bukan ilmu karena tiada kesesuaian antara keduanya (teori dengan kenyataan - pen). Berarti hal ini bathil, sebab kebalikan ilmu adalah jahil (bodoh)


Kesimpulan Asy Syatibi rahimahullah mensyaratkan bahwa kesesuaian disini adalah kesesuain dengan kenyataan dalam perkara-perkara indrawi, maknawi dan juga qauli (bersifat perkataan, perkatannya benar -pen)


Persoalannya ialah bagaimana kaidah (tentang ilmu) di atas bisa berlangsung dalam hubungannya dengan perkara-perkara ghaib?


Misalnya tentang Allah, asma' dan sifat Nya, malaikat, wahyu, hari akhir dan lain sebagainya perkara yang tidak memungkinkan bagi seseorang untuk secara indrawi membuktikan kenyataannya melalui pendekatan realistik?


Untuk menjawab persoalan ini harus dipahami terlebuh dahulu, apakah kenyataan yang realistik itu? Kenyataan realistik ialah segala sesuatu yang nyata adanya, baik yang dapat terjangkau oleh indra maupun yang diluar jangkauan indra (ghaib)


Jadi perkataan ghaib termasuk bagian dari kenyataan realistik (asal jelas kenyataannya ). Pembuktiannya ialah melalui periwayatan yang benar dan terpercaya.


Syaikh Islam Ibnu Taymiyyah mengatakan: Sesungguhnya segala hal yang telah tsabit (jelas adanya) berdasarkan dalil sama' (wahyu) atau dalil lainnya, berarti jelas adanya, baik tsubut (kejelasan adanya ) itu kita ketahui dengan akal, atau tidak dengan akal , atau tidak kita ketahui baik dengan akal atau tidak dengan akal.


Jadi ketidaktahuan seseorang akan sesuatu, tidak menunjukkan bahwa sesuatu itu tidak ada. Ketidaktahuan kita akan berbagai hakekat yang ada, tidak berarti meniadakan adanya hakekat yang ada tersebut.


Dengan demikian perkara-perkara yang ghaib jelas merupakan kenyataan yang realistik, yang bisa diketahui tidak melaui pandangan mata, rabaan pendengaran maupun penciuman, tetapi bisa diketahuii karena dua dua hal yakni:


Pertama: Perkara-perkara itu tidak mungkin bisa dipungkiri adanya


Kedua: Diketahui melalui pemberitaan yang secara pasti dijamin kebenarannya dan dijamin kebenaran periwayatannya.


Pada tingkat berikunya, Ibnu Qoyyim rahimahullah- menyatakan : Dan segala yang tertetapkan didalam diri yang sesuai dengan realita (ilmu yang benar-pen), itu ada dua macam:


1) Jenis ilmu yang menjadikan diri manusia semakin sempurna dengan memahami dan mengilmuinya; yaitu ilmu tentang Allah, asma, sifat, perbuatan-perbuatan, kitab-kitab perintahperintah, dan larangan-larangan Nya.


2) Jenis ilmu yang tidak membawa manusia menjadi sempurna; yaitu segenap ilmu yang apabila tidak dimengerti / diilmui, tidak akan mendatangkan bahaya, itulah ilmu yang tiada bermanfaat. Nabi Muhammad berdo'a memohon perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfat. Dan seperti inilah yang nampaknya kebanyakan ilmu yang benar ilmu yang pas dan sesuai dengan realita, namun jika toh tidak diilmuipun tidak akan mendatangkan bahaya apa-apa; misalnya ialah:


ilmu falak dengan kerumitan serta tingkatan-tingkatannya, jumlah bintang, jarak dan ukurannya. Begitu pula ilmu bilangan gunung , warna, luas dan besarnya, dan seterusnya.. Dengan demikian, maka tingkat keutamaan suatu ilmu, ditentukan berdasarkan tingkat keutamaan dan dibutuhkannya sesuatu yang mesti diilmuinya.


Tentu saja tiada lain yang lebih diutamakan dan dibutuhkan melainkan ilmu tentang Allah beserta segala ilmu yang menjadi rangkaiannya.. Ungkapan Ibnul Qayyim di atas adalah benar belaka kecuali jika ilmu-ilmu tersebut membawa


pemiliknya menjadi semakin kagum pada keagungan serta ke-Maha Kuasaan Allah, Pencipta Alam semesta.


Adalah memang benar bahwa fitrah manusia sebenarnya amat mengenal kepada Rabbnya, bahkan seperti dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:


Sesungguhnya pokok ilmu tentang ilahi merupakan hal yang fitri dan pasti, ilmu tentang ilahi tersebut jauh lebih mapan tertanam dalam jiwa dibandingkan dengan prinsip ilmu pasti dan alam seperti 'satu adalah setengah dari dua' atau 'sebuah tubuh tidak mungkin ada di dua tempat'; sebab pengertianpengertian dalam ilmu pasti dan alam itu merupakan nama-nama (penyebutan-penyebutan) yang mungkin tidak dimengerti oleh kebanyakan fitrah. Sedangkan ilmu tentang ilahi tidak akan terbayang kalau fitrah tidak mengenalinya.


Namun tentu pengenalan fitrah semata kepada Rabbnya tidaklah cukup tetapi harus didukung dengan ilmu-ilmu lebih lanjut, yaitu memahami wahyu, sebab wahyu itulah yang akan menjamin berlangsungnya pemahaman secara benar sehingga apa yang sudah dikenali secara fitrah tidak akan terselewengkan.


Syaikh Abil Izzi Al Hanafi menyatakan bahwa: Ilmu yang paling mulia adalah ilmu ushuluddin (pokokpokok dien), karena tolok ukur mulianya sebuah ilmu tergantung pada kemulian yang mesti diilmui. Kebutuhan manusia kepada ilmu ini diatas kebutuhan penting lainnya, karena tiada hakekat hidup bagi hati dan tiada kenikmatan serta ketenteraman kecuali apabila ia mengenal Rabbnya, Sesembahan dan Penciptanya, lengkap dengan Asma', Shifat serta perbuatan-perbuatan (Rubbubiyah)-nya. Akan tetapi adalah mustahil jika akal (fitrah) semata-mata dapat memahami rincian semua persoalan ushuluddin di atas. Oleh karenanya Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Kasih Sayang dengan segala hkmah serta kebijaksanaan-Nya mengutus para utusan-Nya supaya mengenalkan Allah pada umatnya dan mendakwahi mereka supaya mengabdi kepada-Nya. Allah menjadikan kunci serta intisari dakwah yang dilakukan oleh para Rasul itu ialah: Ma'rifat (mengenal) terhadap Allah lengkap dengan hak Ilahiyah, Asma', Shifat serta perbuatan-perbuatan-Nya. Inilah tuntutan risalah para nabi semenjak nabi pertama hingga nabi terakhir.


Pada sisi lain Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:


Risalah Nabi meliputi dua hal yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal shalih, sebagaimana terdapat dalam firman Allah:


Dialah Allah yang telah mengutus rasul-Nya (dengan membawa) al Huda / petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (at Taubah:33)


Al Huda pada ayat di atas ialah: ilmu yang bermanfaat sedangkan dienul haq ialah amal shalih yang


terdiri dari ikhlas karena Allah dan mutaba'ah (ittiba') kepada Rasulullah .


Ilmu yang bermanfaat meliputi segenap ilmu yang didalamnya terdapat kebaikan dan kemaslahatan bagi umat untuk menempuh kehidupan di dunia maupun di akhirat. Tentu saja yang paling pertama masuk ke dalam ilmu yang bermanfaat adalah ilmu tentang asma' Allah, sifat-sifat, dan af'al (perbuatan-perbuatan)-Nya,
sebab ilmu tersebut adalah ilmu yang paling bermanfaat. Ilmu inilah intisari risalah ilahiyah dan pokok daro dakwah nabi.


Dengan ilmu inilah bakal tegak dienullah baik secara perkataan, perbuatan maupun keyakinan. Oleh sebab itu adalah mustahil jika nabi mengabaikan persoalan ilmu ini dan tidak menjelaskan secara tertulis kepada ummatnya, hingga hilang keraguan serta syubhat...


Demikianlah uraian beberapa ulama terpercaya tentang hakekat ilmu, batasan-batasan, syarat-syarat dan manakah ilmu yang penting, utama dan pertama harus dimengerti oleh seorang manusia.


Dinukil dari Majalah As Sunnah 09/I/1415 dari tulisan Ustadz Ahmas Faiz

Nasehat Untuk Salafiyyin

Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam. Sholawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada nabi kita Nabi Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya.
Amma ba'du

Berikut ini adalah untaian nasehat yang ditujukan kepada generasi muda Ahlis Sunnah wal Jama'ah, yang dituliskan dalam rangka andil dalam menunaikan kewajiban menasehati kaum muslimin, dan mendamaikan antara Ahlis Sunnah, sebagaimana yang dianjurkan dalam banyak dalil.

Yang mendorong saya merangkaikan nasehat ini, adalah fenomena yang dialami oleh banyak pemuda salafiyyin, di berbagai negri islam, dan bahkan di negri-negri non islam, yang dihuni oleh minoritas islam, yaitu berupa perpecahan yang besar. Perpecahan yang disebabkan oleh adanya perbedaan pendapat dalam beberapa masalah ilmiyyah, dan sikap-sikap kongkrit dalam menghadapi sebagian orang yang berseberangan (pendapat). Fenomena ini telah menghambat laju perjuangan dakwah menuju As Sunnah, dan bahkan menghalangi sebagian orang untuk mengikutinya. Padahal sebelumnya masyarakat umum diberbagai daerah dan negri, berbondong-bondong untuk mendalaminya.
Saya akan ringkaskan nasehat ini dalam beberapa poin berikut, dengan disertai harapan kepada Allah, agar melimpahkan kepadaku keikhlasan niat, dan kebenaran dalam ucapan, serta memberikan manfaat kepada setiap orang muslim yang membacanya.
Pertama.
Adalah termasuk salah satu prinsip yang ditetapkan dalam agama Islam, bahwa setiap orang muslim sebelum ia menyibukkan dirinya dengan (kekurangan) orang lain, hendaknya berusaha dengan sungguh-sungguh, membenahi diri, berupaya merealisasikan keselamatan, dan menjauhkan segala hal yang akan menyebabkan kebinasaan terhadap dirinya.
Sebagaimana firman Allah
"Artinya : Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal saleh, dan nasehat- menasehati supaya menetapi kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran". [Al Ashr 1-3]
Allah memberitakan tentang orang-orang yang akan selamat dari kerugian, yaitu orang-orang yang terwujud pada dirinya perangai-perangai tersebut. Allah menyebutkan, bahwa mereka merealisasikan pada diri mereka keimanan, dan amal sholeh terlebih dahulu, sebelum mereka mendakwahi orang lain. Dakwah dengan nasehat-menasehati supaya menetapi kebenaran, dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran. Sehingga ayat-ayat ini benar-benar telah menetapkan permasalahan ini.
Dan Allah sungguh telah mencela Bani Isra'il, dikarenakan mereka menyelisihi prinsip ini, yaitu dengan berfirman
"Artinya : Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Alkitab (Taurat) Maka tidakkah kamu berpikir?".[Al-Baqarah :44]
Oleh karena itu, hendaklah setiap pemuda senantiasa membenahi dirinya sendiri, sebelum berusaha membenahi orang lain, dan tatkala dirinya telah mencapai istiqomah (dalam kebaikan), kemudian ia menyatukan antara penerapan ajaran agama pada dirinya dengan perjuangan mendakwahi orang lain, maka ia benar-benar telah meniti metode dan petunjuk ulama?salaf, dan Allah akan melimpahkan kemanfaatan dari (dakwah) nya. Dengan demikian mereka adalah para da'i menuju kepada As Sunnah, melalui ucapan dan perilakunya. Dan sungguh demi Allah, metode ini merupakan kedudukan paling agung, yang bila seseorang telah berhasil mencapainya, maka ia termasuk hamba Allah yang paling baik kedudukannya pada hari kiyamat.
Allah Ta'ala berfirman.
"Artinya : Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata : "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri" [Fush-Shilat :33]
Kedua.
Hendaknya diketahui, bahwa yang benar-benar dikatakan sebagai Ahlis Sunnah adalah mereka yang menjalankan dengan sempurna (ajaran) agama islam, baik secara idiologi, ataupun perilaku.
Dan merupakan kekurang pahaman, bila yang dianggap sebagai Ahlis Sunnah atau seorang Salafy, adalah orang yang merealisasikan Aqidah Ahlis Sunnah semata, tanpa memperdulikan segi perilaku, adab-adab yang sesuai dengan ajaran islam, dan menunaikan hak-hak sesama muslim.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pada akhir kitab Al-Aqidah Al Wasithiyyah berkata: " ...Kemudian mereka (Ahlis Sunnah wal Jama'ah), selain merealisasikan prinsip-prinsip ini: Saling memerintahkan dengan yang baik, dan melarang dari yang mungkar, sesuai yang diajarkan dalam syar'at. Mereka menganjurkan untuk menunaikan ibadah haji, berjihad, mendirikan sholat jum'at, sholat 'Ied, bersama para pemimpin, baik mereka adalah pemimpin yang baik (adil) ataupun pemimpin yang jahat. Mereka senantiasa menegakkan sholat berjama'ah, menjalankan tanggung jawab memberikan nasehat kepada ummat"
Mereka juga senantiasa meyakini makna sabda Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam :
"Artinya: Permisalan (peran) Seorang mukmin terhadap seorang mukmin lain, bagaikan sebuah bangunan yang kokoh, yang sebagiannya menopang (menguatkan) sebagian lainnya".
Tatkala ditimpa cobaan (kesusahan), mereka saling memerintahkan supaya menetapi kesabaran, dan tatkala mendapatkan kelapangan, saling memerintahkan untuk bersyukur, dan tatkala ditimpa takdir yang pahit, mereka saling memerintahkan untuk berlapang dada. Mereka senantiasa menyeru kepada akhlaq-akhlaq mulia, dan amal-amal terpuji. Mereka juga meyakini makna sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Artinya: Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah orang yang paling baik akhlaqnya"
Mereka senantiasa menganjurkan, agar engkau menyambung (hubungan dengan) orang yang memutuskan hubungan denganmu, dan memberi orang yang enggan memberimu, memaafkan orang yang menzalimimu. Mereka juga saling memerintahkan untuk senantiasa berbakti kepada kedua orang tua, juga untuk bersilaturahmi, berbuat baik kepada tetangga.
Mereka juga senantiasa melarang dari perangai berbangga diri, sombong, melampaui batas, melanggar hak orang lain, baik dengan alasan yang dibenarkan atau tidak.
Mereka senantiasa memerintahkan agar komitmen dan menjaga akhlaq terpuji dan mencegah dari akhlaq tercela.
Dan setiap hal yang mereka ucapkan dan lakukan, baik dari hal-hal tersebut diatas, atau lainnya, mereka senantiasa mengikuti Al Kitab (Al Qur’an) dan As Sunnah, dan jalan hidup mereka adalah agama islam yang dengannya Allah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam?
Ketiga.
Diantara tujuan agung yang dianjurkan agama islam (untuk dicapai), ialah ; menunjuki manusia untuk menganut agama ini, sebagaimana disabdakan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, tatkala beliau mengutus sahabat Ali ke Khaibar (yaitu pada saat perang Khaibar):
"Artinya :Seandainya Allah memberi petunjuk denganmu seseorang saja, itu lebih baik bagimu dibanding (memiliki) unta merah" [HR Bukhory No: 4210, dan Muslim 2406].
Oleh sebab itu, orang-orang yang telah mendapat karunia dari Allah, berupa hidayah (petunjuk) kepada (mengamalkan) As Sunnah, hendaknya bersungguh-sungguh dalam mendakwahi orang yang masih tersesat dari As Sunnah, atau kurang perhatian dengannya. Mendakwahi mereka agar benar-benar merealisasikan As Sunnah. Hendaknya mereka menempuh segala daya dan upaya yang dapat ia lakukan, dalam menuntun manusia dan mendekatkan pintu hati mereka agar menerima kebenaran.
Hal itu dengan cara mendakwahi mereka dengan lemah lembut, sebagaimana firman Allah tatkala berbincang-bincang kepada Nabi Musa dan Harun :
"Artinya: Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah malampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut" [Thaha : 43-44]
Hendaknya mereka memanggilnya dengan julukan-julukan yang sesuai dengan kedudukannya. Sebagaimana dahulu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika menulis surat kepada Hiraql, dengan bersabda:
"Artinya: Kepada Hiraql, Pemimpin Romawi"
Beliau juga memberikan kunyyah kepada Abdillah bin Saba dengan Abil Habbab
Dan hendaknya mereka juga senantiasa bersabar dalam menghadapi kekerasan sikap orang yang didakwahi, dan membalasnya dengan perilaku baik, dan janganlah menuntut mereka untuk segera menerima kebenaran? Allah berfirman:
"Artinya: Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka"[Al-Ahqaaf : 35]
Keempat.
Hendaknya para pelajar (Tholabatul Ilmi), terutama para da'i, dapat membedakan antara Al Mudarah dan Al Mudahanah. Karena Al Mudarah adalah suatu hal yang dianjurkan, yaitu : sikap lemah lembut dalam pergaulan, sebagaimana disebutkan dalam kitab Lisanul Arab, bersikap Mudarah terhadap orang lain adalah dengan beramah-tamah kepada mereka, berhubungan dengan cara yang baik, dan bersabar menghadapi gangguan mereka, agar mereka tidak menjauh darimu. Sedangkan Al Mudahanah (menjilat) adalah sikap tercela, yaitu sikap (mengorbankan) agama, Allah berfirman :
"Artinya : Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). [Al Qolam : 9].
Al Hasan Al Bashry menafsirkan makna ayat ini dengan berkata: "Mereka menginginkan agar engkau berpura-pura dihadapan mereka, sehingga mereka juga akan berpura-pura pula dihadapanmu" [Tafsir Al Baghowy 4/377].
Dengan demikian, orang yang bersikap mudarah akan berlemah lembut dalam pergaulan, tanpa meninggalkan sedikitpun dari prinsip agamanya, sedangkan orang yang bersikap mudahin, ia akan berusaha menarik simpati orang lain dengan cara meninggalkan sebagian prinsip agamanya.
Sungguh dahulu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, merupakan figur paling baik akhlaqnya, dan paling lemah lembut terhadap umatnya, dan ini sebagai perwujudan sisi lemah lembut, dan ramah tamah dari perangai beliau. Di sisi lain, beliau adalah orang paling kuat dalam (mengemban) agama Allah, sehingga beliau tidak akan meninggalkan prinsip agama, barang satupun, walau dihadapan siapapun, dan ini adalah perwujudan sisi keteguhan hati beliau dalam mengemban (prinsip-prinsip) agama. Dan sisi perangai beliau ini sangat bertentangan dengan sikap mudahanah (menjilat).
Hendaknya para pelajar, memperhatikan perbedaan antara kedua perangai ini, karena sebagian orang beranggapan, bahwa bersikap ramah-tamah kepada orang lain, dan berlemah lembut, sebagai tanda lemah dan luluh dalam (mengemban perintah) agama. Disaat yang lain, ada yang beranggapan bahwa: sikap membiarkan orang lain dalam kebatilan, dan berdiam diri tatkala melihat kesalahan, adalah bagian dari sikap ramah-tamah (Ar Rifqu). Sudah barang tentu kedua kelompok (anggapan) ini adalah, salah, dan tersesat dari kebenaran. Hendaknya hal ini benar-benar diperhatikan dengan baik, karena kesalah pahaman pada permasalahan ini, sangat berbahaya, dan tiada yang dapat terlindung darinya, kecuali orang-orang yang mendapatkan taufiq (bimbingan) dan petunjuk dari Allah.
Kelima.
Seorang juru dakwah, dalam berdakwah kepada manusia, memiliki dua metode yang diajarkan dalam syari'at, sebagaimana yang disebutkan dalam banyak dalil, yaitu: metode menarik simpati dan targhib (menganjurkan), dan metode hajer (memboikot/menjauhi) dan mengancam. Sehingga salah bila seseorang bersikap monoton (hanya menerapkan satu metode) kepada setiap orang.
Akan tetapi hendaknya ditempuh metode yang paling berguna dan sesuai dengan masing-masing pelanggar (orang yang menyeleweng), sehingga lebih besar harapan untuk ia dapat menerima kebenaran, dan kembali kepada jalan yang lurus. Apabila dengan metode menarik simpati-lah yang lebih bermanfaat, dan lebih besar harapannya bila diterapkan kepada seorang pelanggar, agar ia menjadi baik, maka metode inilah yang disyari'atkan (dibenarkan) dalam menghadapi orang tersebut. Begitu juga sebaliknya, bila metode hajer (memboikot) lebih berguna bila diterapkan kepadanya, maka metode inilah yang disyari'atkan.
Kesimpulannya: Barang siapa yang menerapkan metode menarik simpati, terhadap orang yang selayaknya dihajer (diboikot), maka ia telah bertindak gegabah dan lalai. Dan barang siapa yang menerapkan metode hajer (boikot) terhadap orang yang selayaknya ditarik simpatinya, maka ia telah berlaku munaffir (menjadikan orang lain lari) dan ekstrim.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: (Syari'at) menghajer, berbeda-beda sejalan dengan perbedaan orang yang menerapkannya, dipandang dari kuat, tidaknya, dan sedikit, banyaknya jumlah mereka; karena tujuan dari (penerapan) hajer (boikot) adalah menghardik orang yang dihajer (diboikot), memberi pelajaran kepadanya, dan agar masyarakat umum meninggalkan kesalahan tersebut.
Sehingga apabila manfaat dan kemaslahatan yang dipetik dari sikap hajer (boikot) lebih besar (dibanding dengan kerugiannya), sehingga dengan ia diboikot, kejelekan menjadi melemah, dan sirna, maka pada saat itulah hajer (boikot) disyariatkan.
Akan tetapi bila orang yang diboikot, dan orang lainnya tidak menjadi jera, bahkan kejelekannya semakin bertambah, sedangkan pelaku hajer (boikot) kedudukannya lemah, sehingga kerugian yang ditimbulkan lebih besar dibanding maslahatnya, maka pada keadaan yang demikian ini, tidak disyariatkan hajer (boikot).
Bahkan menarik simpati sebagian orang itu lebih berguna dibanding memboikotnya, dan memboikot sebagian lainnya, lebih berguna dibanding menarik simpatinya. Oleh karena itu, dahulu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menarik simpati sebagian orang, dan memboikot sebagian lainnya?
Yang demikian ini, sebagaimana halnya menghadapi musuh, kadang kala disyariatkan peperangan, dan kadang kala perdamaian, dan kadang kala dengan cara mengambil jizyah (upeti), semua itu disesuaikan dengan situasi dan kemaslahatan.
Jawaban para imam, seperti imam Ahmad dan lainnya, tentang permasalahan ini, didasari oleh prinsip tersebut" [Majmu' Fatawa 28/206].
Beliau menjelaskan kesalahan orang yang menyama ratakan dalam menerapkan hajer (boikot) atau menarik simpati, tanpa memperhatikan prinsip tersebut diatas, dengan berkata: "Sesungguhnya sebagian orang menjadikan hal tersebut (hajer atau menarik simpati) sebagai suatu keumuman, sehingga mereka menghajer atau mengingkari orang yang tidak disyariatkan, tidak diwajibkan dan juga tidak disunnahkan. Dan mungkin saja dikarenakan kesalahan ini, menyebabkannya meninggalkan hal-hal yang diwajibkan atau disunnahkan, dan akibatnya ia melanggar hal-hal yang diharamkan.
Dan disisi lain ada sebagian orang yang berpaling dari itu semua, sehingga ia enggan untuk membaoikot (menjauhi) sesuatu yang diperintahkan untuk diboikot (dijauhi), yaitu berupa hal-hal buruk lagi bid'ah" [Majmu' Fatawa 28/213].
Keenam.
Sepantasnya setiap orang yang hendak menerapkan masalah hajer (boikot) untuk memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam syari'at, yang telah digariskan oleh para ulama?yang berkompeten dalam hal ini. Sehingga melalui ketentuan-ketentuan tersebut benar-benar terbedakan dengan jelas, antara pelaku kesalahan yang disyari'atkan (layak) untuk diboikot dari orang yang tidak layak. Ketentuan-ketentuan tersebut, diantaranya, ialah :
[1]. Yang Berkaitan Dengan Pemboikot.
Yaitu hendaknya orang yang kuat, memiliki pengaruh, sehingga pemboikotan yang ia lakukan menimbulkan pengaruh, yang berupa teguran terhadap pelaku kesalahan. Adapun bila pemboikot adalah orang yang lemah, maka boikot yang ia lakukan tidak akan membuahkan hasilnya
Ketentuan ini berlaku bila tujuan pemboikotan adalah untuk memberikan pelajaran kepada pelaku kesalahan.
Adapun bila tujuannya ialah demi menjaga kemaslahatan pemboikot, yaitu karena ditakutkan akan timbul kerusakan dalam urusan agamanya, bila ia bergaul dengan pelaku kesalahan, maka ia dibenarkan untuk memboikot setiap orang yang akan mendatangkan kerugian baginya, bila ia bergaul atau duduk-duduk dengannya.
Yang demikian ini, dikarenakan hajer (boikot) disyariatkan demi mencapai kemaslahatan pemboikot, yaitu dengan cara memboikot setiap orang yang bila ia bergaul dengannya akan merusak agamanya, Sebagaimana disyariatkan demi mencapai kemaslahatan orang yang diboikot, yaitu dengan cara memboikot pelaku kesalahan, yang diharapkan akan mendapat pelajaran, bila diboikot.
Dan hajer (boikot) juga disyariatkan, demi mencapai kemaslahatan masyarakat banyak, yaitu dengan cara memboikot sebagian pelaku kesalahan, sehingga masyarakat, menjadi jera dan takut untuk melakukan perbuatan seperti perbuatan mereka. Dan banyak dalil yang menunjukkan setiap macam dari ketiga jenis pemboikotan ini.
[2]. Yang Berkaitan Dengan Orang Yang Diboikot.
Yaitu apabila ia akan mendapatkan manfaat dengan terjadinya pemboikotan atas dirinya, sehingga ia terpengaruh dan kembali kepada kebenaran. Adapun bila tidak mendapatkan manfaat dengannya, bahkan kadang kala semakin bertambah jauh dan menentang, maka tidak disyariatkan untuk memboikotnya. Dan hal ini bisa saja kembalinya kepada tabi'at yang dimiliki oleh sebagian orang; kuat, keras, dan enggan untuk tunduk kepada orang lain, walau tabiat ini akan menjadikannya binasa. Nah orang semacam ini tidak akan mendapatkan pelajaran dari hukuman, dan boikot, akan tetapi kadang kala dapat dipengaruhi dengan cara menarik simpati, dan sikap ramah tamah.
Ada kalanya yang menyebabkan ia tidak mendapatkan manfaat dari pemboikotan adalah adanya kendala-kendala lain, misalnya, karena ia adalah seorang pemimpin, atau kaya raya, atau orang yang memiliki kedudukan sosial di masyarakat. Orang-orang semacam mereka, biasanya tidak akan berguna bila diboikot, karena mereka biasanya merasa tidak butuh terhadap orang yang memboikotnya. Oleh karena itu dahulu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menarik simpati para pemimpin yang ditaati dikaumnya, begitu juga pemuka masyarakat, seperti halnya Abu Sufyan, 'Uyainah bin Hishn, Al Aqra'bin Habis, dan yang serupa dengan mereka.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: "Oleh karena itu, dahulu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menarik perhatian sebagian orang, dan memboikot sebagaian lainnya, sebagaimana halnya tiga orang sahabat yang tidak ikut (dalam perang Tabuk), ketiga-tiganya lebih baik bila dibanding kebanyakan orang-orang yang ditarik perhatiannya. Hal ini dikarenakan mereka (orang-orang yang ditarik perhatiannya) adalah para pemimpin, lagi ditaati di kabilah masing-masing". [Majmu' Fatawa 28/206]
[3]. Yang Berkaitan Dengan Jenis Pelanggaran.
Tidak ada jenis pelanggaran yang dapat dikatakan : bahwa pelakunya selalu diboikot, dalam situasi apapun, atau selalu tidak diboikot, dalam situasi apapun. Sebagaimana anggapan sebagian orang bahwa setiap perbuatan bid'ah pasti diboikot, sedangkan perbuatan maksiat, tidak, atau bid'ah mukaffirah (yang menyebabkan pelakunya diklaim kafir) diboikot, sedang selainnya tidak, atau dosa-dosa besar diboikot, sedang dosa-dosa kecil tidak.
Yang benar adalah, disyariatkan memboikot setiap (pelaku) kesalahan, walaupun kecil, apabila ia adalah orang yang layak untuk dihajer (diboikot) dan ia akan mendapatkan manfaat dengannya. Dengan demikian yang menjadi inti permasalahan dalam hal ini ialah; apakah pelaku pelanggaran tersebut mendapatkan manfaat dari pemboikotan atau tidak, tanpa memperhatikan besar kecilnya pelanggaran. Sehingga mungkin saja seorang yang sholeh, pengagung As Sunnah, diboikot, hanya karena kesalahan kecil, sebagaimana halnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memboikot sebagian sahabatnya, karena sebagian pelanggaran kecil. Sebagai contoh, beliau memboikot 'Ammar bin Yasir Radhiyallahu 'anhu tatkala menggunakan minyak za'faran. [HR Abu Dawud dalam kitab As Sunnan 5/8], dan beliau tidak menjawab ucapan salam seorang sahabat yang memiliki kubah, hingga ia menghancurkannya. [HR Abu Dawud, 5/402].
Dan kadang kala tidak disyariatkan memboikot sebagian pelaku pelanggaran besar, yang tingkat kesholehan pelakunya jauh dibawah orang-orang yang diboikot. Sebagai contoh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menarik simpati Al Aqra' bin Habis, 'Uyainah bin Hishn, bahkan beliau menarik simpati sebagian orang munafiqin, semacam Abdullah bin Ubai, dan yang serupa dengannya. Semua ini sesuai dengan kemaslahatan dan mempertimbangkan ketentuan-ketentuan lain dalam masalah pemboikotan.
[4]. Yang Berkaitan Dengan Waktu Dan Tempat Terjadinya Pelanggaran
Hendaknya dibedakan antara tempat dan waktu yang banyak terjadi pelanggaran dan kemungkaran, sehingga pelakunya memiliki kekuatan, dengan tempat dan waktu yang jarang terjadi pelanggaran, sehingga kekuatan pelakunya lemah.
Sehingga apabila kekuatan diwaktu dan tempat tersebut berada ditangan Ahli Sunnah, maka disyariatkan untukmenghajer (memboikot), tentunya dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan lainnya, disebabkan pelaku pelanggaran dalam keadaan lemah, sehingga ia akan menjadi jera dengan pemboikotan tersebut. Sebagaimana firmankan tentang kisah sahabat Ka’ab bin Malik dan kedua kawannya:
"Artinya: Hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. [At-Taubah 118]
Sebagaimana teguran dan pendidikan, berhasil dicapai melalui pemboikotan sahabat Umar bin Khotthab beserta seluruh ummat, terhadap Shobigh bin ‘Asal, sebagaimana telah diketahui bersama.
Adapun apabila kekuatan pada suatu waktu dan tempat berada ditangan orang-orang jahat, dan penjaja kebatilan, maka tidak disyari'atkan pemboikotan ; -kecuali pada momen-momen tertentu- karena pemboikotan pada saat seperti ini tidak akan dapat merealisasikan tujuannya, berupa pendidikan, dan teguran, bahkan dimungkinkan orang-orang yang berpegang teguh dengan kebenaran akan mengalami hal-hal yang tidak diinginkan.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : "Oleh karena itu hendaknya dibedakan antara tempat-tempat yang banyak terjadi praktek-praktek bid'ah, sebagaimana halnya yang terjadi di kota Bashrah banyak orang-orang yang mengingkari taqdir (Qodariyah), di kota Khurasan banyak ahli nujum, dan di kota Kufah banyak orang-orang Syi'ah, dengan tempat-tempat yang tidak demikian halnya. Dan hendaknya dibedakan antara para pemimpin yang memiliki pengikut, dengan lainnya. Dan apabila telah diketahui tujuan syari'at, maka hendaknya ditempuh jalan tercepat untuk mencapai tujuan tersebut" [Majmu'Fatawa 28/206-207]
[5]. Yang Berkaitan Dengan Masa Pemboikotan.
Hendaknya masa pemboikotan disesuaikan dengan keadaan pelaku pelanggaran dan jenis pelanggaran, karena ada orang-orang yang sudah jera bila diboikot selama satu hari, dua hari , satu bulan atau dua bulan, dan ada orang-orang yang butuh waktu lebih lama. Dan apabila tujuan pemboikotan telah tercapai, maka harus dihentikan, karena kalu tidak, yang terjadi adalah rasa putus asa dan putus harapan. Sebaliknya, bila masa pemboikotan kurang dari yang selazimnya, maka tidak akan ada gunanya.
Tatkala Ibnu Qayyim menyebutkan faedah-faedah yang dapat disimpulkan dari kisah pemboikotan NabiShallallahu 'alaihi wa sallam terhadap sahabat Ka'ab bin Malik dan kedua kawannya, beliau berkata: "Dalam kisah ini terdapat dalil bahwa pemboikotan seorang pemimpin, atau ulama' atau pemuka masyarakat, terhadap orang yang melakukan suatu pelanggaran yang mengharuskan untuk dicela (diboikot). Hendaknya pemboikotan tersebut merupakan obat, yaitu dengan cara yang dapat merealisasikan perbaikan (penyembuhan), dan tidak berlebih, baik dalam jumlah atau metode, sehingga dapat membinasakan orang tersebut, karena tujuannya (pemboikotan) adalah untuk memberikan pendidikan, bukan membinasakan" [Zad Al Ma'ad 3/20]
Ketujuh :
Mengingkari pelaku pelanggaran, dan membantahnya, dalam rangka menunaikan kewajiban menasehati orang tersebut, dan menjaga masyarakat dari kesalahannya, adalah salah satu prinsip baku Ahlis Sunnah, bahkan hal ini termasuk macam jihad paling mulia. Akan tetapi, harus memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam syari'at, dan syarat-syarat yang telah ditetapkan, sehingga dengan cara ini, dapat dicapai tujuan syar'at dari pengingkaran dan bantahan tersebut. Diantara ketentuan dan syarat tersebut, ialah:
[1]. Hendaknya pengingkaran tersebut dilakukan dengan penuh rasa ikhlas, niat yang jujur lagi murni hanya karena ingin memperjuangkan kebenaran. Diantara konsekwensi keikhlasan dalam hal ini, ialah: Ia senang bila pelaku pelanggaran mendapatkan petunjuk, dan kembali kepada kebenaran, dan ia menempuh segala usaha yang dapat ia lakukan, agar hati pelaku pelanggaran tersebut dapat terbuka, bukan malah menjadikannya semakin jauh. Dan hendaknya ia berdoa secara khusus untuk orang tersebut, agar Allah memberi petunjuk kepadanya, apabila ia dari kalangan Ahli Sunnah, atau selain mereka. Sungguh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu mendoakan sebagian orang kafir, agar mendapat petunjuk, maka bagaimana halnya bila ia dari kalangan kaum muslimin yang bertauhid (tentu lebih pantas untuk didoakan).
[2]. Hendaknya bantahan terhadap orang tersebut dilakukan oleh seorang ulama' yang benar-benar telah mendalam ilmunya, sehingga ia menguasai dengan detail, segala sudut pandang dalam permasalahan tersebut, yaitu, yang berkaitan dengan dalil-dalil syari'at, keterangan para ulama' dalam masalah tersebut, dan sejauh mana tingkat penyelewengan pelanggar tersebut. Dan juga sumber munculnya syubhat pada orang itu, dan keterangan para ulama' seputar cara mematahkan syubhat tersebut, serta mengambil pelajaran dari keterangan mereka dalam hal ini.
Hendaknya orang yang membantah memiliki kriteria: dapat mengemukakan dalil-dalil yang kuat ketika mengemukakan kebenaran, dan mematahkan syubhat, ungkapan-ungkapan yang detail, agar tidak nampak, atau dipahami dari perkataannya suatu kesimpulan yang tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Karena bila orang yang membantah tidak memiliki kriteria ini, niscaya yang terjadi adalah kerusakan besar.
[3]. Hendaknya tatkala membantah, diperhatikan perbedaan tingkat pelanggaran, kedudukan baik dari segi agama ataupun sosial yang ada pada orang-orang tersebut. Begitu juga motivasi pelanggaran, apakah karena kebodohan, atau hawa nafsu dan keinginan untuk berbuat bid'ah, atau ungkapannya yang kurang baik, atau salah mengucap, atau terpengaruh oleh seorang guru atau lingkungan masyarakatnya, atau karena memiliki takwil, atau tujuan-tujuan lain yang ada pada pelanggaran terhadap syari'at.
Barang siapa membantah pelaku pelanggaran, dengan tidak memperdulikan dan tidak memperhatikan terhadap perbedaan-perbedaan ini, niscaya ia akan terjerumus kedalam tindak ekstrim (berlebih-lebihan) atau sebaliknya (kelalaian), yang akan menjadikan perkataannya tidak atau kurang berguna.
[4]. Hendaknya tatkala membantah, senantiasa berusaha mewujudkan maslahat (tujuan) syari'at dari tindakan tersebut. Sehingga apabila tindakannya tersebut justru mendatangkan kerusakan yang lebih besar dibanding dengan kesalahan yang hendak dibantah, maka tidak disyari'atkan untuk membantah. Karena suatu kerusakan tidak dibenarkan untuk ditolak dengan kerusakan lebih besar.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : "Tidak dibenarkan menolak kerusakan kecil dengan kerusakan besar, juga tidak dibenarkan mencegah kerugian ringan dengan melakukan kerugian yang lebih besar. Karena syari'at Islam (senantiasa) mengajarkan agar senantiasa merealisasikan kemaslahatan, dan menyempurnakannya, juga melenyapkan kerusakan dan menguranginya, sedapat mungkin. Singkat kata; bila tidak mungkin untuk disatukan antara dua kebaikan, maka syari'at islam (mengajarkan untuk) memilih yang terbaik. Begitu juga halnya dengan dua kejelekan, bila tidak dapat dihindarkan secara bersamaan, maka kejelekan terbesarlah yang dihindarkan" [Al Masail Al Mardiniyyah 63-64]
[5]. Hendaknya bantahan, disesuaikan dengan tingkat tersebarnya kesalahan tersebut. Sehingga apabila suatu kesalahan hanya muncul di suatu negri, atau masyarakat, maka tidak layak bantahannya disebar luaskan ke negri atau masyarakat yang belum mendengar kesalahan tersebut, baik melalui penerbitan kitab, atau kaset, atau sarana-sarana lainnya. Karena menyebar luas bantahan, berarti secara tidak langsung menyebar luaskan pula kesalahan tersebut. Sehingga bisa saja ada orang yang membaca atau mendengarkan bantahan, akan tetapi syubhat-syubhat (kesalahan itu) masih membayangi hati dan pikirannya, dan tidak merasa puas dengan bantahan itu.
Sehingga menghindarkan masyarakat dari mendengarkan kebatilan dan kesalahan, lebih baik daripada mereka mendengarkannya, dan membantahnya kemudian. Sungguh ulama?terdahulu, senantiasa mempertimbangkan hal ini dalam setiap bantahan mereka. Banyak sekali kita dapatkan kitab-kitab mereka yang berisikan bantahan, mereka hanya menyebutkan dalil-dalil yang menjelaskan kebenaran, yang merupakan kebalikan dari kesalahan tersebut, tanpa menyebutkan kesalahan itu. Tentu ini membuktikan akan tingkat pemahaman mereka, yang belum dicapai oleh sebagian orang zaman sekarang.
Pembahasan yang telah diutarakan, berkaitan dengan menebarkan bantahan di negri yang belum dijangkiti kesalahan, sama halnya pembahasan tentang menebarkan bantahan di tengah-tengah sekelompok orang yang tidak mengetahui kesalahan itu, walaupun ia tinggal di negri yang sama. Sehingga tidak seyogyanya menebarkan bantahan, baik melalui buku atau kaset, ditengah-tengah masyarakat yang tidak mengetahui atau mendengar adanya kesalahan itu.
Betapa banyak orang awam yang terfitnah, dan terjatuh ke kubang keraguan tentang dasar-dasar agama, akibat mereka membaca buku-buku bantahan yang tidak dapat dipahami oleh akal pikiran mereka.
Maka hendaknya orang-orang yang menebarkan buku-buku bantahan ini, takut kepada Allah, dan berhati-hati, agar tidak menjadi penyebab terfitnahnya masyarakat, dalam urusan agama mereka.
Dan diantara yang paling mengherankan saya ialah; sebagian pelajar, membagi-bagikan sebagian buku bantahan, kepada sebagian orang yang baru masuk islam, orang-orang yang keislamannya baru berjalan beberapa hari atau bulan, kemudian mereka mengarahkannya agar membaca buku tersebut. Alangkah mengherankan sekali tindakan mereka.
[6]. Hukum membantah pelaku kesalahan, ialah fardhu kifayah, sehingga bila telah ada seorang ulama' yang melaksanakannya, dan dengan bantahan dan peringatan yang ia lakukan, telah terealisasi tujuan syari'at, maka tanggung jawab (kewajiban) para ulama?telah gugur. Hal ini sebagaimana telah ditetapkan oleh para ulama?dalam permasalahan hukum fardhu kifayah.
Adalah termasuk kesalahan, tatkala ada seorang ulama' membantah seorang pelaku kesalahan, atau fatwa yang memperingatkan dari kesalahan seseorang, banyak pelajar menuntut ulama' lainnya, juga para pelajar lainnya agar menyatakan sikap mereka terhadap ulama' pembantah tersebut dan pelaku kesalahan yang dibantah, atau fatwa itu. Bahkan tidak jarang para pelajar pemula, bahkan juga masyarakat awam, untuk menyatakan sikapnya terhadap ulama' pembantah dan pelaku kesalahan tersebut.
Terlebih dari itu semua, mereka kemudian menjadikan permasalahan ini sebagai asas wala' dan bara' (loyalitas dan permusuhan), dan akhirnya yang terjadi saling menghajer (memboikot) hanya karena perkara ini.
Bahkan kadang kala sebagian pelajar memboikot sebagian gurunya (syeikhnya), yang selama bertahun-tahun ia menimba ilmu darinya, hanya dikarenakan permasalahan ini pula. Dan kadang kala pula, fitnah ini menyusup kedalam keluarga, sehingga engkau dapatkan seseorang memboikot saudaranya, seorang anak bersikap tidak sopan terhadap orang tuanya, bahkan kadang kala, seorang istri diceraikan dan anak-anak menjadi terpisah-pisah, hanya karena permasalahan ini.
Dan bila engkau melihat fenomena yang menimpa masyarakat, niscaya engkau akan mendapatkan mereka terpecah menjadi dua kelompok atau bahkan lebih. Setiap kelompok membidikkan berbagai tuduhan, dan akhirnya saling memboikot. Semua ini terjadi dikalangan orang-orang yang menisbatkan dirinya kepada As Sunnah (Ahlis Sunnah), yang sebelumnya setiap kelompok tidak dapat mencela akidah dan manhaj kelompok lain, sebelum terjadinya perbedaan ini. Fenomena ini kembalinya kepada kebodohan yang sangat tentang As Sunnah (Manhaj Ahlis Sunnah), kaidah-kaidah mengingkari (kemungkaran) menurut Ahlis Sunnah, atau kepada hawa nafsu (yang diturutkan), kita memohon kepada Allah perlindungan dan keselamatan.
Kedelapan.
Ulama' Ahlis Sunnah yang telah terkenal akan keselamatan akidah dan jasanya dalam memperhuangkan As Sunnah (Manhaj Ahlis Sunnah), hendaknya senantiasa dijaga kehormatannya, diperhatikan kedudukannya, tidak sepatutnya dicela, atau diklaim sebagai pelaku bid'ah, atau dituduh mengikuti hawa nafsu, atau fanatis, hanya karena memiliki kesalahan dalam berijtihad.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: "Tidak diragukan lagi, bahwa kesalahan seseorang dalam permasalahan yang detail, akan diampuni, walaupun kesalahan tersebut tergolong dalam permasalahan-permasalahan ilmiyyah (akidah). Kalau kita tidak bersikap demikian, niscaya kebanyakan ulama?akan binasa (tidak dihargai jasanya). Apabila Allah mengampuni orang yang tidak mengetahui bahwa khomer adalah haram, dikarenakan ia hidup disuatu masyarakat bodoh, padahal ia tidak pernah menuntut ilmu, maka seorang ulama?yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, sesuai dengan yang ia peroleh dimasa dan tempat ia berada, apabila ia benar-benar bertujuan mengikuti (ajaran) Rasulullah sedapat mungkin, tentua ia lebih berhak untuk diterima Allah kebaikannya dan mendapatkan pahala atas usaha dan jasanya, dan diampunkan kesalahannya. hal ini sebagai realisasi dari firman-Nya: "Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau menyiksa kami, jika kami lupa atau bersalah" [Majmu' fatawa 20/165]
Pada kesempatan lain beliau juga berkata: "Ini adalah keyakinan ulama' salaf (terdahulu), dan para imam ahli fatwa, seperti Abu Hanifah, As Syafi'i, Ats-Tsaury, Dawud bin Ali, dan lainnya. Mereka tidak menganggap berdosa orang yang salah dalam berijtihad, baik dalam permasalahan-permasalahan prinsip (ushul), atau cabang (furu). Hal ini sebagaimana dinukilkan oleh Ibnu Hazem dan lainnya, dan mereka berkata: inilah pendapat yang dikenal dari kalangan para sahabat, pengikut mereka dalam kebaikan (tabi'in), dan para imam agama. mereka tidaklah mengkafirkan, juga tidak menfasikkan, juga tidak menganggap berdosa, seorang ahli ijtihad yang salah (dalam berijtihad), tidak dalam permasalahan amaliyah, juga tidak dalam masalah ilmiyah (akidah). Mereka beralasan, bahwa membedakan antara permasalahan-permasalahan furu' (cabang) dengan permasalahan-permasalahan ushul (prinsip) hanyalah pendapat ahlil bid'ah, dari kalangan orang-orang penganut ilmu kalam (filsafat), mu'tazilah, jahmiyyah, dan pengikut mereka" [Majmu' Fatawa 19/207]
Kita menegaskan hal ini, bukan berarti kita tinggal diam, tidak menasehati ulama' tersebut bila ia melakukan kesalahan, bahkan menasehatinya adalah sebuah kewajiban setiap orang yang mengetahui kesalahannya, dan sikap ini termasuk bakti dan perilaku baik kepadanya. Akan tetapi sudah barang tentu nasehat harus dilakukan dengan cara ramah, lembut, metode yang sesuai dengan kedudukannya dalam keilmuan dan perjuangannya.
Kemudian bila ia bertaubat, meninggalkan kesalahannya, dan meralat kesalahannya, maka ia diterima, dan tidak dibenarkan lagi untuk membicarakannya, tidak juga mencelanya karena kesalahan tersebut, juga tidak dibenarkan kita meragukan kesungguhannya dalam bertaubat.
Namun bila ia tidak bertaubat, dikarenakan masih memiliki alasan tertentu, atau syubhat yang menghalanginya untuk mengetahui kebenaran, maka hendaknya dilihat; apabila kesalahan tersebut hanya terbatas pada dirinya sendiri, maka tanggung jawab kita telah selesai dengan menasehatinya, akan tetapi jika kesalahan tersebut telah menyebar, maka hendaknya masyarakat diperingatkan dari kesalahan itu, dengan tetap menjaga kehormatan ulama?tersebut.
Sepantasnya pada kesempatan ini, kita senantiasa mengingat kewajiban menjaga dua prinsip besar: Pertama: Kewajiban bersikap tulus demi kebenaran, Kedua: Kewajiban menjaga kehormatan ulama? kedua prinsip ini menurut Ahlis Sunnah tidaklah saling bertentangan, dan tidak dibenarkan untuk membesar-besarkan salah satunya, walau harus dengan mengabaikan yang lainnya.
Cinta kepada ulama' menjaga kedudukan mereka, tidak berarti tinggal diam melihat kesalahan mereka, dan tidak memperingatkannya. Bersikap tulus demi kebenaran, dan mengingatkan kesalahan seorang ulama' tidak berarti mencela dan memakinya, akan tetapi kedua prinsip ini dapat digabungkan oleh setiap orang yang mendapatkan bimbingan dari Allah.
Barang siapa yang mengetahui metode ulama' dalam mengingatkan kesalahan sebagian mereka, tanpa diserta celaan, niscaya ia akan mengetahui hakikat permasalahan ini, dan bukti-bukti nyata perkataan ini banyak sekali didapatkan dalam perkataan ulama'.
Kesembilan:
Ahlul bid'ah yang menyelisihi Akidah Ahlis Sunnah, dan manhaj (metode) mereka dalam berdalil, mengajar, mendidik, dan berdakwah ke jalan Allah, serta mengikuti hawa nafsu. Mereka juga tidak menjadikan ulama?Ahlis Sunnah sebagai suri tauladan, bahkan sebaliknya, malah mencela, dan mencemooh mereka, bahkan menganggap diri mereka lebih utama dibanding para ulama' Ahlis Sunnah. Mereka ialah mubtadi'ah (ahli bid'ah) lagi sesat, sepantasnya untuk diperangi dengan cara menjelaskan kepada seluruh masyarakat, keburukan jalan mereka, penyelewengan mereka dari As Sunnah. Juga dengan membantah mereka, dan memperlakukan mereka dalam segala kondisi dengan perlakuan terhadap Ahlul bid'ah.
Akan tetapi, hal ini tidak menghalangi kita untuk mendakwahi mereka kepada kebenaran, dan bila dianggap akan menyebabkan mereka kembali kepada As Sunnah, maka diadakan diskusi antara ulama' dengan mereka, yaitu diskusi dengan cara-cara yang baik.
Hendaknya kita selalu waspada, agar tidak mencampur-adukkan antara sikap yang seharusnya diambil dalam menghadapi Ulama'Ahlis Sunnah, -walau mereka memiliki kesalahan- yaitu kewajiban menjaga kedudukan dan kehormatan mereka, sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, dengan sikap yang seharusnya diambil dalam menghadapi ulama' Ahlil bid'ah, yang seyogyanya diboikot, dan diperingatkan dari mereka agar dijauhi. Yang demikian ini, dikarenakan kesalahan ulama' Ahlis Sunnah, merupakan hasil dari usaha mereka dalam mencapai kebenaran, dengan menempuh metode-metode yang dibenarkan dalam berdalil. Sedangkan kesalahan ulama' Ahlil bid'ah, ialah hasil dari hawa nafsu, penyelewengan, dan tidak menempuh metode-metode yang dibenarkan dalam berdalil, sehingga sangat jauhlah perbedaan antara keduanya.
Permasalahan ini, merupakan titik perbedaan antara Ahlis Sunnah dan Ahlil bid'ah. Dan dengan ini pula seorang yag cerdas dan jeli dapat memahami, sebab kenapa para ulama' Ahlis Sunnah yang memiliki kesamaan pendapat dengan sebagian Ahlil bid'ah dalam beberapa keyakinan mereka, tidak diklaim sebagai ahlil bid'ah.
Kesepuluh :
Saya menutup nasehat ini dengan menyebutkan beberapa anjuran ringan dan faedah-faedah berharga, yang saya rasa bila diamalkan, akan mendatangkan pahala besar dan kedudukan tinggi disisi Allah. Saya menyeru saudara-saudaraku untuk mengamalkannya, dan senantiasa memperhatikannya, terlebih-lebih pada masa ini, masa yang banyak tersebar fitnah, hawa nafsu diumbar, kebodohan merajalela, kecuali orang-orang yang mendapatkan rahmat dan petunjuk Allah.

[1]. Wahai penganut As Sunnah, ketahuilah: jika anda benar-benar penganut As Sunnah, sekali-kali tidak akan merugikanmu, tipu daya yang ditujukan kepadamu oleh seluruh penghuni langit dan bumi, dan anda tidak akan dapat terusir dari (jalan) As Sunnah, hanya karena tuduhan mereka kepada anda, sebagai pelaku bid'ah. Sebaliknya, jika anda adalah pelaku kesesatan dan peyelewengan dan saya memohonkan perlindungan kepada Allah untuk anda, agar anda tidak menjadi demikian- niscaya tidak berguna bagimu disisi Allah, pujian seluruh manusia, dan penisbatan mereka bahwa anda adalah penganut As Sunnah, serta sanjungan mereka kepada anda dengan berbagai julukan palsu, -bila realitanya Allah telah mengetahui tentang hakikat diri anda sebagaimana yang anda ketahui sendiri- oleh karena itu hendaknya anda tidak berdusta pada diri sendiri. Hendaknya cukup sebagai peringatan bagimu pada situasi seperti ini, wasiat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Ibnu Abbas, Radhiyallahu 'anhu dan hadits tiga orang yang akan pertama kali dimasukkan kedalam api neraka, semoga Allah melindungi saya dan anda darinya.
[2]. Ketahuilah bahwasannya ulama' Ahlis Sunnah yang mendalam (kokoh) ilmunya, dapat mencapai kedudukan tinggi dan menjadi pemimpin (imam) dalam keagamaan selain karena taufiq (bimbingan) Allah kepada mereka- dikarenakan kesabaran dan keyakinan mereka. Allah Ta'ala berfirman:
"Artinya : Dan Kami jadikan dari mereka imam-imam (para pemimpin), yang memberi petunjuk dengan urusan Kami, tatkala mereka bersabar, dan mereka yakin dengan ayat-ayat Kami".
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: "Dengan kesabaran dan keyakinan, kepemimpinan dalam urusan agama akan dicapai"
Dan yang dimaksud dari keyakinan ialah ; kekuatan dalam ilmu, yang dilandasi oleh dalil yang benar, pemahaman lurus. Bukan (sebagai keyakinan) apa yang dianut oleh sebagian pelajar, berupa sikap pasrah dalam berilmu dengan taklid kepada seorang ulama' atau pelajar lain, atau dakwaan bahwa kebenaran akan selalu bersama ulama' tersebut, dan tidak ada yang memahami As Sunnah dengan baik, kecuali dia.
Dan yang dimaksud dari kesabaran ialah; kegigihan dan keuletan dalam menuntut ilmu, dengan disertai pengamalan, dan mengisi seluruh waktunya, siang dan malam dengan hal tersebut. Berbeda halnya dengan orang-orang yang lemah semangat, dan lebih senang dengan santai, pasrah kepada gejolak hawa nafsu, sehingga ia tidak memiliki semangat untuk belajar, juga tidak untuk beramal.
[3]. Ketahuilah bahwasannya mengklaim orang lain dengan kafir, mubtadi' dan fasik, merupakan hak Allah, oleh karenanya jangan sekali-kali anda mengkalaim dengan kafir, atau mubtadi' atau fasik orang yang tidak layak diklaim demikian, walaupun ia telah mengklaim anda dengan kafir, atau mubtadi' atau fasik. Karena sesungguhnya Ahlis Sunnah tidak membenarkan untuk membalas kezaliman pelaku kesalahan dengan kezaliman. Akan tetapi metode membalas kezaliman dengan kezaliman, merupakan perangai Ahlil bid'ah.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: "Orang-orang Khowarij selalu mengkafirkan Ahlis Sunnah wal Jama'ah, demikian juga Mu'tazilah, mereka mengkafirkan setiap orang yang bertentangan dengannya, demikian pula halnya Rafidhoh (Syi'ah). Kalaupun mereka tidak mengkafirkan, tapi mereka mengklaim dengan fasik'. Sedangkan Ahlis Sunnah, senantiasa mengikuti kebenaran yang datang dari Tuhan mereka, kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan mereka tidaklah mengkafirkan orang yang menyelisihi mereka dalam kebenaran itu. Akan tetapi mereka adalah orang yang paling tahu tentang kebenaran, dan paling sayang terhadap manusia" [Minhajus Sunnah 5/158]
[4]. Janganlah sekali-kali anda memboikot saudaramu yang telah memboikotmu, bila pemboikotan terhadapnya tidak dibenarkan secara syari'at. Akan tetapi hendaknya anda selalu memulai mengucapkan salam kepadanya, berusaha menarik simpatinya. Berusahalah untuk menghapuskan syubhat yang menyebabkannya memboikot anda. Bila ia tetap berpaling darimu, maka janganlah anda berkeyakinan dalam hati anda bahwa anda dibenarkan untuk memboikotnya. Dan janganlah anda menyibukkan diri anda dengan terus berusaha mendekatinya, karena anda telah terbebas dari dosa memutus hubungan, sedangkan dia akan bertanggung jawab atas tindakannya itu.
[5]. Celaan orang lain terhadap anda, bisa saja dengan cara menjelek-jelekkan pribadi anda, dan bisa dengan cara menisbatkan -dengan dusta- kepada anda suatu perkataan yang bertentangan dengan keyakinan Ahlis Sunnah. Maka apabila yang mereka lakukan adalah menjelek-jelekkan pribadi anda, misalnya dengan mengatakan: Ia orang sesat, bodoh, tidak paham, maka janganlah sekali-kali anda membela diri. Karena bila anda membela diri, niscaya anda akan terjerumus kedalam tazkiatun nafsi (memuji diri sendiri), dan sikap seperti ini merupakan kebinasaan yang nyata.
Ada seseorang yang menjelek-jelekkan seorang Imam dengan suatu ucapan, maka Imam itu hanya menjawab: "Tuduhan) Anda tidak terlalu jauh". Dahulu Ahlil bid'ah senantiasa mensifati pribadi ulama' Ahlis Sunnah dengan berbagai kedustaan, akan tetapi mereka tidak pernah memperdulikannya, Yang mereka lakukan hanyalah membantah kesalahan mereka dalam urusan agama, dan menasehati masyarakat umum. Oleh karena itu hendaknya kita menjadikan mereka suri tauladan dalam hal ini.
Adapun bila ia menisbatkan suatu perkataan sesat, misalnya dengan mengatakan: Si fulan berkata demikian, demikian, dan menisbatkan kepadamu suatu perkataan yang tidak pernah anda ucapkan, maka anda cukup membantah penisbatan tersebut, agar pada kemudian hari tidak ada yang menisbatkan perkataan tersebut kepada anda. Dan para ulama' senantiasa menjelaskan kepada masyarakat tentang perkataan-perkataan yang tidak pernah mereka ucapkan, yang dinisbatkan kepada mereka. Dan sikap ini sama sekali bukan termasuk kedalam sikap memuji diri sendiri, bahkan merupakan nasehat kepada masyarakat.
Sehingga sangat jelas perbedaan antara contoh ini dengan contoh sebelumnya. Oleh karena itu hendaknya anda berpegang teguh dengan ajaran ulama' salaf dalam hal semacam ini. Dan janganlah anda menyerupai sebagian orang bodoh, yang bila dituduh dengan suatu tuduhan, ia langsung menebarkan keseluruh penjuru dunia, berbagai pujian, dan sanjungan terhadap dirinya, Kita berlindung kepada Allah dari kehinaan. dan yang terakhir:
[6]. Ketahuilah bahwa setiap manusia akan menjadi semakin besar (kedudukannya) dalam bidang amalannya masing-masing, sehingga jika anda berpegang teguh dengan As Sunnah, niscaya kedudukan anda semakin hari, akan semakin besar, dan tidak akan lama lagi, anda akan menjadi pemimpin dalam (pengamalan) As Sunnah, Allah Ta'ala berfirman:
"Artinya : Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami" [As Sajdah : 24].
Dan sebaliknya, jika anda mengamalkan bid'ah, niscaya kedudukan anda semakin hari akan semakin besar, dan tidak akan lama lagi, anda akan menjadi pemimpin dalam (pengamalan) bid'ah. Allah Ta'ala berfirman :
"Artinya : Katakanlah: "Barangsiapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah Rabbnya yang Maha Pemurah memperpanjang tempo baginya" [Maryam :75].
Dan setelah Allah mensifati Fir'aun beserta kaumnya dengan kesombongan, Dia berfirman:
"Artinya : Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka" [Al Qhashash : 41].
Maka silahkan anda memilih untuk diri anda, suatu amalan yang esok anda senang bila menjadi pemimpin dalamnya.
Inilah dan hanya Allah Ta'ala-lah yang lebih tahu, dan semoga Allah senantiasa melimpahkan sholawat, salam dan keberkahan atas hamba dan rasul-Nya Muhammad.

Ditulis oleh:
Ibrahim bin Amir Ar Ruhaily
Selesai ditulis di kota Madinah
Pada tanggal 8/10/1424 H.
[Diterjemahkan Oleh ASPRI RAHMAT AZAI Islamic University of Madinah Po. Box : 10234 Phone : 966-4-8390448 Mobile: 966-59467833]